Sabtu, 19 Agustus 2017

OJK: aset perbankan Jambi tumbuh 5,07 persen

id berita jambi terkini, ojk, aset perbankan jambi tumbuh 5,07 persen,
OJK: aset perbankan Jambi tumbuh 5,07 persen
OJK (ANTARA Foto)
Jambi, Antarajambi.com - Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Jambi mencatat total aset industri perbankan yang beroperasi di provinsi ini mencapai Rp40,8 tiriliun atau tumbuh sebesar 5,07 persen pada semester I tahun 2017.

"Kinerja perbankan sampai dengan semester I menunjukan perkembangan yang positif, total aset perbankan mencapai Rp40,8 triliun atau dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mengalami pertumbuhan 5,07 persen," kata Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jambi Darwisman di Jambi, Jumat.

Kinerja perbankan yang beroperasi di Jambi tersebut, menurut dia, dapat dilihat dari penyaluran kredit yang juga mengalami pertumbuhan sebesar 3,07 persen atau mencapai Rp32,9 triliun.

Kemudian dana yang berhasil dihimpun dari masyarakat atau Dana Pihak Ketiga (DPK) dalam bentuk tabungan, deposito dan giro mengalami kenaikan sebesar 21,08 persen atau Rp29 triliun.

Dari data tersebut, kata Darwisman, kinerja perbankan telah mengalami pertumbuhan yang tidak signifikan karena siklus yang selama ini terjadi sehingga pertumbuhannya masih fluktuasi karena kondisi sektor riil masyarakat sektor unggulan belum sepenuhnya stabil.

Pihaknya optimistis memasuki semester II kinerja perbankan akan menunjukan pertumbuhan yang baik seiring dengan siklus yang selama ini terjadi khususnya pada pembiayaan kredit yang mulai berjalan pada semester II.

"Sesuai dengan siklus yang selama ini terjadi kinerja perbankan tumbuh baik pada semester II dan minimal di kisaran pembiayaan kredit di angka sembilan persen," katanya.

Sementara itu terkait pada penyaluran kredit perbankan sebesar Rp32,9 triliun tersebut, Darwisman menyebutkan, diantaranya terbagi atas bank umum sebesar Rp31,4 triliun dan BPR sebesar Rp32 miliar.

Dari jumlah kredit yang telah disalurkan perbankan itu yang paling besar disalurkan untuk kredit sektor rumah tangga yang mencapai Rp9,6 tirilun, kemudian diikuti sektor perdagangan besar dan eceran sebesar Rp7,17 triliun.

Setelah itu kredit di sektor pertanian, perkebunan dan kehutanan Rp5,6 triliun dan sektor rumah tangga untuk pembiayaan perumahan sebesar Rp3,5 triliun.

"Kredit masih banyak pada sektor rumah tangga, karena dukungan lain dari sektor perkebunan dan pertambangan pun masih fluktuasi sehingga perbankan masih cukup berhati-hati karena mengkhawatirkan menimbulkan risiko kredit macet," katanya.

Editor: Dodi Saputra

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga